MoU Petani Walet Parigi Moutong dan PT FKS

    0
    25
    MoU Petani Walet Parigi Moutong dan PT FKS
    Penandatangan MoU- Petani walet Parigi Moutong menandatangani MoU dengan PT FKS terkait ekspor sarang burung walet. Penandatangan dilakukan di Rumah Jabatan Wakil Bupati Parigi Moutong, disaksikan Wakil Bupati Parimo H. Badrun Nggai, perwakilan Mentan dan Kepala Bapenda Parimo, Senin 24 Februari 2020. GemasulawesiFoto/Anto.

    Parigi moutong, gemasulawesi.com– Petani walet Kabupaten Parigi Moutong menandatangani Memorandum of Understansding atau MoU dengan PT FKS selaku eksportir sarang burung walet.

    “Penandatanganan MoU secara simbolis dilakukan salah satu perwakilan petani walet H.Suardi dan PT. FKS, Darwis,” ungkap Kepala Badan pendapatan daerah (Bapenda) di Rujab Wakil Bupati Parigi Moutong, Senin 24 Februari 2020.

    Ia melanjutkan, terdata sebanyak 143 petani walet Parigi Moutong yang akan menandatangani MoU dengan PT FKS.

    MoU itu kata dia, terkait ekspor sarang burung walet yang akan dilakukan ke salah satu negara importir yaitu China.

    Namun, dalam MoU itu belum diatur tentang harga dan teknis ekspor ke China, untuk dapat mengikat kedua belah pihak.

    “MoU lebih mengatur kepada kesepahaman terkait hak-hak petani untuk dapat pendampingan dan pembinaan,” jelasnya.

    Sebelumnya, Badan Karantina II Palu menyebutkan dengan produksi mencapai 47 Ton per tahun, Provinsi Sulawesi Tengah berpotensi kembangkan sarang burung walet.

    “Produksi sarang burung walet di Sulawesi Tengah mengalami peningkatan dari semula 37 Ton. Rata-rata kenaikan produksi hingga mencapai 10 Ton,” ungkap Kepala Badan Karantina Pertanian Kelas II Palu, Ida Bagus Soma Wijaya.

    Ia melanjutkan, hasil produksi 47 Ton itu bersumber dari beberapa daerah penghasil walet diantaranya, dari Kabupaten Parigi Moutong, Donggala dan Toli-Toli.

    Terkait ekspor sarang burung walet, Badan Karantina Pertanian berfungsi sebagai penilai dan register rumah walet. Kemudian, setelah memenuhi tata cara dan persyaratan barulah ada kegiatan pengiriman ke negara importir.

    Dalam rangka kunjungan ke Parigi Moutong kata dia, merupakan tindak lanjut MoU antara pihak peternak burung walet lokal dengan pihak PT. FKS dan Pemerintah daerah (Pemda).

    “Pemda memfasilitasi dan memediasi rencana kegiatan ekspor sarang burung walet. Saat ini peternak walet lokal di Kabupaten Parigi lebih banyak yang merupakan inisiatif sendiri untuk mencari siapa yang menampung produk mereka,” jelasnya.

    Sementara itu, perwakilan Menteri Pertanian, Muh Idrus Hafied mengatakan pihaknya bertugas mempercepat program Kementan sesuai dengan amanat dari Menteri Pertanian.

    Program prioritas ekspor peternakan Kementan adalah ekspor sarang burung walet, program pengembangan ayam unggas dan program pengembangan domba dan kambing.

    Untuk program sarang burung walet lanjut dia, sangat menguntungkan karena memiliki banyak keunggulan, sangat mudah dikembangkan, tidak memakan banyak biaya dan pasar cukup besar nilai ekspor tinggi.

    “Burung walet memiliki dua jenis prospek ekspor yaitu ekspor ke Cina yang merupakan konsumsi terbesar walet dan sudah memiliki LKH. Berikutnya, ekpor ke negara lain berupa Singapura, Malaysia, Hongkong, Vietnam,” jelasnya.

    Ia menerangkan, Indonesia saat ini memiliki ekspor 70 ton ke China secara resmi. FKS ingin mengambil pasar ekspor ke China. Caranya bertahap dimulai nanti dengan kedatangan tim karantina sarang burung walet dari China. Tujuannya untuk survei ternak walet.

    Ia menambahkan, FKS dan Kementan akan membuat pasar baru dengan sistem untuk komoditi sarang burung walet. Hal itu juga untuk mengantisipasi banyaknya ijon di daerah lain.

    Baca juga: Produksi 47 Ton, Sulawesi Tengah Potensi Bisnis Sarang Burung Walet

    Laporan: Muhammad Rafii

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here